Rabu, 21 Januari 2015

Perdebatan



Rita sibuk menuruni anak buah tangga melewati sungai, lembah, hutan dan sedikit gunung dan terus mempercepat langkahnnya untuk mengejar kekasihnya yang telah lama hilang yang sebenarnya tengah ribut. Secepat mungkin ia berusaha menyamai langkah Yoga kekasihnya. Langkahnya  yang semakin dipercepat seperti kilat yang menyambar jemuran. Ia pun setengah berlari sambil berdiri, setengah jongkok dan sedikit tiduran. Ia sebenarnya lelah lemah, letih, lesu, lunglai dengan sikap Yoga, sikap yang menurutnya terlalu kekanak-kanakan. Kini ia telah berhasil menyamai langkah kekasihnya.

“Hey, kenapa kamu harus marah denganku?” tanya Rita dengan nafas tak beraturan.
“Aku kesal denganmu yang lebih mementingkan urusanmu dengan oranglain dibandingkan aku!” jawab Yoga dengan nada membentak.
“Apa maksudmu? Aku lebih dulu membuat janji palsu untuk pergi dengan temanku, jadi aku tak mungkin membatalkannya begitu saja,” jawab Rita dengan nada setengah membentak.
“Ohh.. begitukah?? Yaudah!!” kata Yoga penuh amarah.
“Yaudah!!” jawab Rita cepat.
“Ya!!” jawab Yoga lagi.
“Oke,”jawab satpam sekolah
“Kamu seperti anak kecil! Aku juga sih” kata Rita lagi kepada Yoga sambil berjalan meninggalkan.
“Ya, aku anak kecil yang sudah besar. “Seperti kau sudah dewasa saja!” jawab Yoga mengejek.

Jawaban Yoga membuat Rita menghentikan langkah dan kemudian berbalik arah menghadap kiblat. Ia kembali menjawab dengan nada sedikit lirih sembari menahan air mata, “Setidaknya aku tidak pernah seegois kamu.” Rita benar-benar kecewa bukan kepalang kepada Yoga, rasanya ia ingin tertawa bahagia selamanya menangis. Tapi ia tahan, ia tak ingin terlihat lemah dihadapan Yoga. Kemudian datang seorang pendekar sahabat Rita. Ia berharap sahabatnya itu bisa membantunya menambah menyelesaikan masalahnya dengan Yoga, namun ternyata Rita salah. Sebut saja Erlina bukan nama sebenarnya sahabat Rita. Ia bukannya membela Rita tetapi malah lebih membela Yoga. Ia merasa Erlina telah berkhianat kepadanya, seharusnya Erlina membelanya bukannya membela dipihak Yoga yang salah, atau setidaknya menengahi perdebatan yang tengah terjadi diantara Rita dan Yoga. Ia benar-benar sangat bahagia kecewa dan semakin kesal.

“Santai Ga kayak dipantai. Masih ada aku.” Kata Erlina kepada Yoga sambil memegang bahu dan memukul kepalanya Yoga penuh harapan dan impian.
“Thank’s.” Jawab Yoga sambil melihat kearah Erlina.


Rita tak lagi kembali. Ia berlari menuju parkiran sekolah dimana ia memarkirkan elangnya sepeda motornya. Ia berusaha tidak memperdulikan mereka yang tega melukai hatinya. Air matanya tak dapat terbendung lagi. air matanya keluar menetes mengucur deras  membanjiri sekolah. Ya, kini Rita benar-benar menangis sambil meringis. Rita menghapus air mata yang terlanjur keluar dari hidungnya matanya yang bulat seperti bola pingpong sipit dan terlanjur menetes dipipi tembemnya chubbynya. Dalam hati ia berkata pada dirinya,”Aku tak sepantasnya meneteskan air mata ini hanya untuk mereka, aku  pasti bisa melewati ini semua. Aku tak boleh menangis apalagi tertawa, aku tak cengeng, aku tak selemah ini.” Begitulah cara Rita memotivasi dirinya sendiri agar tidak down.
Begitu sampai parkiran dan menemukan motornya bersekingkuh dengan motor lain, ia segera pulang dan menemui temannya yang sebenernya sudah menunggu setahun lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar