Rita sibuk menuruni anak buah tangga melewati sungai,
lembah, hutan dan sedikit gunung dan terus mempercepat langkahnnya untuk
mengejar kekasihnya yang telah lama hilang yang sebenarnya tengah ribut.
Secepat mungkin ia berusaha menyamai langkah Yoga kekasihnya. Langkahnya yang semakin dipercepat seperti kilat yang
menyambar jemuran. Ia pun setengah berlari sambil berdiri, setengah
jongkok dan sedikit tiduran. Ia sebenarnya lelah lemah, letih, lesu,
lunglai dengan sikap Yoga, sikap yang menurutnya terlalu kekanak-kanakan. Kini
ia telah berhasil menyamai langkah kekasihnya.
“Hey, kenapa kamu harus marah denganku?” tanya Rita
dengan nafas tak beraturan.
“Aku kesal denganmu yang lebih mementingkan urusanmu
dengan oranglain dibandingkan aku!” jawab Yoga dengan nada membentak.
“Apa maksudmu? Aku lebih dulu membuat janji palsu
untuk pergi dengan temanku, jadi aku tak mungkin membatalkannya begitu saja,”
jawab Rita dengan nada setengah membentak.
“Ohh.. begitukah?? Yaudah!!” kata Yoga penuh amarah.
“Yaudah!!” jawab Rita cepat.
“Ya!!” jawab Yoga lagi.
“Kamu seperti anak kecil! Aku juga sih” kata
Rita lagi kepada Yoga sambil berjalan meninggalkan.
“Ya, aku anak kecil yang sudah besar. “Seperti
kau sudah dewasa saja!” jawab Yoga mengejek.
Jawaban Yoga membuat Rita menghentikan langkah dan
kemudian berbalik arah menghadap kiblat. Ia kembali menjawab dengan nada
sedikit lirih sembari menahan air mata, “Setidaknya aku tidak pernah seegois
kamu.” Rita benar-benar kecewa bukan kepalang kepada Yoga, rasanya ia
ingin tertawa bahagia selamanya menangis. Tapi ia tahan, ia tak ingin
terlihat lemah dihadapan Yoga. Kemudian datang seorang pendekar sahabat
Rita. Ia berharap sahabatnya itu bisa membantunya menambah menyelesaikan
masalahnya dengan Yoga, namun ternyata Rita salah. Sebut saja Erlina bukan
nama sebenarnya sahabat Rita. Ia bukannya membela Rita tetapi malah lebih
membela Yoga. Ia merasa Erlina telah berkhianat kepadanya, seharusnya Erlina
membelanya bukannya membela dipihak Yoga yang salah, atau setidaknya menengahi
perdebatan yang tengah terjadi diantara Rita dan Yoga. Ia benar-benar sangat bahagia
kecewa dan semakin kesal.
“Santai Ga kayak dipantai. Masih ada aku.”
Kata Erlina kepada Yoga sambil memegang bahu dan memukul kepalanya Yoga
penuh harapan dan impian.
“Thank’s.” Jawab Yoga sambil melihat kearah Erlina.
Rita tak lagi kembali. Ia berlari menuju parkiran
sekolah dimana ia memarkirkan elangnya sepeda motornya. Ia berusaha
tidak memperdulikan mereka yang tega melukai hatinya. Air matanya tak dapat
terbendung lagi. air matanya keluar menetes mengucur deras membanjiri sekolah. Ya, kini Rita
benar-benar menangis sambil meringis. Rita menghapus air mata yang
terlanjur keluar dari hidungnya matanya yang bulat seperti bola pingpong
sipit dan terlanjur menetes dipipi tembemnya chubbynya. Dalam hati ia
berkata pada dirinya,”Aku tak sepantasnya meneteskan air mata ini hanya untuk
mereka, aku pasti bisa melewati ini
semua. Aku tak boleh menangis apalagi tertawa, aku tak cengeng, aku tak
selemah ini.” Begitulah cara Rita memotivasi dirinya sendiri agar tidak down.
Begitu sampai parkiran dan menemukan motornya bersekingkuh
dengan motor lain, ia segera pulang dan menemui temannya yang sebenernya
sudah menunggu setahun lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar